Wednesday, February 20, 2019

Rumah Kaca

Dyan bukan malam yang selalu menepati
janji untuk mempersembahkan matahari pada fajar.
Dyan bukan pohon flamboyan yang merekahkan bebunganya
saat kemarau panjang. Dyan hanyalah mawar berduri bagi Mad.
Kekupu tolol yang terluka sesudah Dyan minggat
tanpa diketahui di mana alamatnya
http://www.apakabardunia.com
AKULAH lelaki bayangan. Berumah kaca. Nasibku seburuk Rahwana di penjara gunung Somawana. Tinggal sendirian. Tak ada perempuan sebagai istri, pacar, atau selingkuhan. Tak ada anak-anak selucu malaikat bersayap perak saat bermain bebintang di langit lepas. Tak ada kerabat. Saudara kembarku pun tak pernah berkunjung lagi. Dialah, Mad. Penyair sunyi yang selalu onani dengan komputer dan ponselnya.
Kepada Mad, aku sangat iba. Nasibnya lebih buruk dariku. Puisi-puisinya yang ditulis hanya menjadi sampah. Setiap perempuan yang didambakan sebagai istrinya selalu meninggalkan. Hingga Mad tak percaya lagi dengan keberadan cinta yang selalu dipuja-puja serupa dewa bagi sekelompok manusia purbani. Perempuan-perempuan yang dikontak lewat ponselnya hanya orang-orang sakit. Tak butuh cinta, selain syahwat.
Dyan. Demikian Mad menyebut nama pacar pertamanya yang tengah sibuk mengurus perceraian dengan suaminya. Semula Mad percaya kalau kata-kata Dyan yang bakal setia mendampingi perjalanan hidupnya hingga batas usia hanya bualan seorang pemabuk. Dyan bukan malam yang selalu menepati janji untuk mempersembahkan matahari pada fajar. Dyan bukan pohon flamboyan yang merekahkan bebunganya saat kemarau panjang. Dyan hanyalah mawar berduri bagi Mad. Kekupu tolol yang terluka sesudah Dyan minggat tanpa diketahui di mana alamatnya.
Selepas Dyan dari ruang cintanya, Mad tidak pernah bersentuhan dengan komputer dan ponselnya. Berhari-hari Mad selalu mengunjungiku. Sebagai saudara sejiwa, aku hanya memberi saran agar Mad tidak percaya pada semua perempuan. Bukankah Adam yang dipenjara Tuhan di bumi jahanam lantaran mulut manis perempuan?
Tak lama kemudian, Mad tidak lepas lagi dengan ponselnya. Setiap hari Mad selalu menulis puisi cinta. Setiap hari Mad bercallingan dan beresemesan dengan Aryn. Perempuan kesepian karena suaminya telah enam bulan tidak pernah pulang. Perempuan yang selalu minta didengar kata-katanya. Perempuan lapar berahi yang selalu minta disuapi sewaktu datang di rumah Mad. Namun sebagaimana Dyan, Aryn pun tak ada kabar lagi. Sesudah mengobral janji kosong kepada Mad akan membelikan printer bekas buat komputernya saat menerima uang bulanan dari suaminya. Developer yang konon berselingkuh dengan sekretarisnya.
Di depanku, Mad mengeluhkan nasib cintanya. Baginya cinta telah menyerupai lengkungan bianglala. Satu ujung di puncak gunung. Satu ujung lainnya di pusar telaga. Namun sewaktu Mad yang mengendap-endap seperti harimau lapar atas rusa muda, bianglala itu lenyap dari pandangannya. "Sudaraku, aku telah lelah memburu cinta. Hanya menghabiskan sisa usia percuma. Apakah Tuhan tak menciptakan seorang perempuan sebagai pasangan hidupku?"
Aku hanya menatap matanya yang berlinang air mata itu. Mad ternyata lebih cengeng dari perempuan. Jiwanya yang pernah setegar pengembara sunyi di padang karang di naungan panggangan matahari musim kemarau itu kini lebih hina dari sesobek kapas yang diterbangkan angin. "Air mata tidak menyelesaikan masalah, Mad?"
"Lantas aku harus bagaimana, saudaraku? Aku telah lelah mendatangi makam-makam. Meminta restu kepada para leluhur yang bersemayam di alam keabadiannya. Bibirku telah kelu berdoa setiap tengah malam, agar aku cepat mendapatkan seorang istri yang setia. Sebagimana Setyawati bagi Narasoma. Surtikanthi bagi Suryatmaja. Subadra bagi Arjuna.  Apakah Tuhan sudah bosan mendengar keluh kesahku?"
"Hanya Tuhan yang tahu."
"Tidak adakah lagi jalan lain yang harus kutempuh?"
"Pergilah ke timur! Di mana ibumu disemayamkan."
"Kapan aku berangkat?"
"Tak perlu menunggu hari kiamat."
Tanpa permisi, Mad meninggalkanku. Sebelum matahari muntah dari rahim malam, Mad tak agi duduk di depan komputernya. Sas-sus yang aku dengar dari tetangga-tetangga kiri-kanannya, Mad pergi hanya dengan ponselnya. Tanpa bekal pakaian. Tanpa membawa sepeser uang. Sungguh kasihan kalau aku merasakan nasib saudaraku itu. Mad serupa kapas yang terombang-ambingkan angin di langit lepas.
***

Hampir sebulan Mad telah meninggalkan rumah. Aku kembali kesepian. Tinggal sendirian di rumah kaca. Namun aku tidak pernah menduga sebelumnya, kalau rumah yang dibiarkan tidak terkunci itu telah menerima tamu tak diundang. Dia bukan pencuri, melainkan seorang perempuan. Fafa, demikian namanya.
Fafa memang cantik. Anggun tepatnya. Wajahnya menyiratkan sifat keibuan. Binar matanya melukiskan kecerdasan di dalam berpikir. Rambutnya lurus sampai ke pinggang. Hingga suatu pagi, aku dapat bertemu dengan Fafa. Saat perempuan yang tak pernah merokok itu membersihkan cermin. Tempat Mad sering berkaca. Tempat dimana aku tinggal di dalamnya.
"Sampai kapan kau setia menunggunya, Fa? Mad tak pasti kapan pulangnya."
"Sampai kapan pun, aku akan menunggunya."
"Luar biasa! Kau telah lama mengenalnya?"
"Aku telah mengenal pribadinya lewat karya-karyanya yang dimuat di koran. Aku sangat mengaguminya."
"Apa maksudmu datang ke rumah ini?"
"Aku ingin berguru kepadanya."
"Tentang sastra?"
"Tentang kehidupan. Kau siapa? Rumahmu di dalam kaca. Kau tampan seperti Ciptaning."
"Aku saudara kembar Mad."
Fafa terdiam. Namun wajahnya yang sontak menyerupai telaga berwarna zamrut berkilauan karena matahari itu menyiratkan suatu persoalan besar. "Aku harus meninggalkanmu sejenak. Pakaian kotor Mad banyak menimbun di ember. Aku harus mencuci, mengeringkan, dan menyeterikanya."
Sebelum meninggalkanku, Fafa tersenyum tipis. Luar biasa! Senyum itu melampaui flamboyan di musim kemarau panjang. Aku turut berbahagia, apabila Fafa tidak hanya menjadi murid Mad. Namun istri yang selalu setia hingga usia di batas senja. Teratai yang selalu anggun di kolam berlumpur.
***

Dari ruang sunyi aku terbangun. Mendengar kaca diketuk-ketuk. Ia bukan Fafa. Melainkan, Mad. Tubuhnya basah-kuyup karena peluh. Wayahnya diselimuti debu jalanan. Tak seperti biasanya, Mad yang cepat pulang dari berpergian itu hanya diam di depanku. "Mengapa kau cepat pulang, Mad? Kau sudah sampai di makam ibumu?"
"Belum. Di tengah jalan, sms nyasar ke ponselku. Baca ini! Aq lm mnunggu di rumhmu. Bkn tuk apa. Hnya mnyampaikn psn mdiang ibumu. Nmr ini aq dpat dr koran pusat yg muat biografi di bwh puisi2mu. Kau tahu siapa yang datang di rumah kita?"
Fafa memasuki ruangan. Membawa segelas teh. "Lihat ke belakang! Kau akan tahu siapa tamu istimewa di rumah kita."
"Siapa dia?"
Sebelum kata-kata meluncur dari muluku, perempuan itu memberi jawaban, "Namaku, Fafa. Tinggal di ibukota. Putri tunggal Pak Darmawan. Mantan pacar ibumu yang harus berpisah lantaran tak mendapatkan restu orang tua. Tapi cinta ayah dengan ibumu tak pernah berakhir. Mereka bersepakat untuk menjodohkan kedua anaknya bila sudah dewasa. Sebelum ayah meninggal menyusul ibuku di alam keabadiannya, dia berpesan agar aku menemuimu di Jawa. Sekarang terserah kepadamu. Apakah kau menerimaku sebagai calon istrimu, Mad?"
Aku menahan napas. Jantungku berhenti detaknya. Merasakan kecemasan luar biasa. Manakala Mad meminta kepada Fafa untuk segera pulang ke ibukota! Menyampaikan pesan Mad: "Atas nama mendiang ibuku, lamaranmu aku terima!"
Wajah Fafa yang secerah udara di luar itu setengah diangkat. Matanya yang berkaca-kaca bersua dengan mata Mad. Keningnya terbuka untuk kecupan Mad. Kepalanya melekat hangat di dada Mad. Di depanku, mereka berpagutan. Serupa sepasang pengantin sesudah mengucapkan sumpah sakral di depan meja penghulu. Namun sesudah keduanya memasuki kamar, aku merasakan rumah kacaku sesunyi penjara Gunung Somawana.

No comments:

Post a Comment