Dyan bukan malam yang selalu
menepati
janji untuk mempersembahkan
matahari pada fajar.
Dyan bukan pohon flamboyan yang
merekahkan bebunganya
saat kemarau panjang. Dyan
hanyalah mawar berduri bagi Mad.
Kekupu tolol yang terluka
sesudah Dyan minggat
tanpa diketahui di mana
alamatnya
![]() |
| http://www.apakabardunia.com |
AKULAH lelaki bayangan. Berumah kaca. Nasibku seburuk
Rahwana di penjara gunung Somawana. Tinggal sendirian. Tak ada perempuan
sebagai istri, pacar, atau selingkuhan. Tak ada anak-anak selucu malaikat
bersayap perak saat bermain bebintang di langit lepas. Tak ada kerabat. Saudara
kembarku pun tak pernah berkunjung lagi. Dialah, Mad. Penyair sunyi yang selalu
onani dengan komputer dan ponselnya.
Kepada Mad, aku sangat iba. Nasibnya lebih buruk
dariku. Puisi-puisinya yang ditulis hanya menjadi sampah. Setiap perempuan yang
didambakan sebagai istrinya selalu meninggalkan. Hingga Mad tak percaya lagi
dengan keberadan cinta yang selalu dipuja-puja serupa dewa bagi sekelompok
manusia purbani. Perempuan-perempuan yang dikontak lewat ponselnya hanya
orang-orang sakit. Tak butuh cinta, selain syahwat.
Dyan. Demikian Mad menyebut nama pacar pertamanya
yang tengah sibuk mengurus perceraian dengan suaminya. Semula Mad percaya kalau
kata-kata Dyan yang bakal setia mendampingi perjalanan hidupnya hingga batas
usia hanya bualan seorang pemabuk. Dyan bukan malam yang selalu menepati janji
untuk mempersembahkan matahari pada fajar. Dyan bukan pohon flamboyan yang merekahkan
bebunganya saat kemarau panjang. Dyan hanyalah mawar berduri bagi Mad. Kekupu
tolol yang terluka sesudah Dyan minggat tanpa diketahui di mana alamatnya.
Selepas Dyan dari ruang cintanya, Mad tidak pernah
bersentuhan dengan komputer dan ponselnya. Berhari-hari Mad selalu
mengunjungiku. Sebagai saudara sejiwa, aku hanya memberi saran agar Mad tidak
percaya pada semua perempuan. Bukankah Adam yang dipenjara Tuhan di bumi
jahanam lantaran mulut manis perempuan?
Tak lama kemudian, Mad tidak lepas lagi dengan
ponselnya. Setiap hari Mad selalu menulis puisi cinta. Setiap hari Mad bercallingan dan beresemesan dengan Aryn.
Perempuan kesepian karena suaminya telah enam bulan tidak pernah pulang.
Perempuan yang selalu minta didengar kata-katanya. Perempuan lapar berahi yang
selalu minta disuapi sewaktu datang di rumah Mad. Namun sebagaimana Dyan, Aryn
pun tak ada kabar lagi. Sesudah mengobral janji kosong kepada Mad akan
membelikan printer bekas buat komputernya saat menerima uang bulanan dari
suaminya. Developer yang konon berselingkuh dengan sekretarisnya.
Di depanku, Mad mengeluhkan nasib cintanya. Baginya
cinta telah menyerupai lengkungan bianglala. Satu ujung di puncak gunung. Satu
ujung lainnya di pusar telaga. Namun sewaktu Mad yang mengendap-endap seperti harimau
lapar atas rusa muda, bianglala itu lenyap dari pandangannya. "Sudaraku,
aku telah lelah memburu cinta. Hanya menghabiskan sisa usia percuma. Apakah
Tuhan tak menciptakan seorang perempuan sebagai pasangan hidupku?"
Aku hanya menatap matanya yang berlinang air mata
itu. Mad ternyata lebih cengeng dari perempuan. Jiwanya yang pernah setegar
pengembara sunyi di padang karang di naungan panggangan matahari musim kemarau
itu kini lebih hina dari sesobek kapas yang diterbangkan angin. "Air mata
tidak menyelesaikan masalah, Mad?"
"Lantas aku harus bagaimana, saudaraku? Aku
telah lelah mendatangi makam-makam. Meminta restu kepada para leluhur yang
bersemayam di alam keabadiannya. Bibirku telah kelu berdoa setiap tengah malam,
agar aku cepat mendapatkan seorang istri yang setia. Sebagimana Setyawati bagi
Narasoma. Surtikanthi bagi Suryatmaja. Subadra bagi Arjuna. Apakah Tuhan sudah bosan mendengar keluh
kesahku?"
"Hanya Tuhan yang tahu."
"Tidak adakah lagi jalan lain yang harus
kutempuh?"
"Pergilah ke timur! Di mana ibumu
disemayamkan."
"Kapan aku berangkat?"
"Tak perlu menunggu hari kiamat."
Tanpa permisi, Mad meninggalkanku. Sebelum matahari
muntah dari rahim malam, Mad tak agi duduk di depan komputernya. Sas-sus yang
aku dengar dari tetangga-tetangga kiri-kanannya, Mad pergi hanya dengan
ponselnya. Tanpa bekal pakaian. Tanpa membawa sepeser uang. Sungguh kasihan
kalau aku merasakan nasib saudaraku itu. Mad serupa kapas yang terombang-ambingkan
angin di langit lepas.
***
Hampir sebulan Mad telah meninggalkan rumah. Aku
kembali kesepian. Tinggal sendirian di rumah kaca. Namun aku tidak pernah
menduga sebelumnya, kalau rumah yang dibiarkan tidak terkunci itu telah
menerima tamu tak diundang. Dia bukan pencuri, melainkan seorang perempuan.
Fafa, demikian namanya.
Fafa memang cantik. Anggun tepatnya. Wajahnya
menyiratkan sifat keibuan. Binar matanya melukiskan kecerdasan di dalam berpikir.
Rambutnya lurus sampai ke pinggang. Hingga suatu pagi, aku dapat bertemu dengan
Fafa. Saat perempuan yang tak pernah merokok itu membersihkan cermin. Tempat
Mad sering berkaca. Tempat dimana aku tinggal di dalamnya.
"Sampai kapan kau setia menunggunya, Fa? Mad tak
pasti kapan pulangnya."
"Sampai kapan pun, aku akan menunggunya."
"Luar biasa! Kau telah lama mengenalnya?"
"Aku telah mengenal pribadinya lewat
karya-karyanya yang dimuat di koran. Aku sangat mengaguminya."
"Apa maksudmu datang ke rumah ini?"
"Aku ingin berguru kepadanya."
"Tentang sastra?"
"Tentang kehidupan. Kau siapa? Rumahmu di dalam
kaca. Kau tampan seperti Ciptaning."
"Aku saudara kembar Mad."
Fafa terdiam. Namun wajahnya yang sontak menyerupai
telaga berwarna zamrut berkilauan karena matahari itu menyiratkan suatu
persoalan besar. "Aku harus meninggalkanmu sejenak. Pakaian kotor Mad
banyak menimbun di ember. Aku harus mencuci, mengeringkan, dan
menyeterikanya."
Sebelum meninggalkanku, Fafa tersenyum tipis. Luar
biasa! Senyum itu melampaui flamboyan di musim kemarau panjang. Aku turut
berbahagia, apabila Fafa tidak hanya menjadi murid Mad. Namun istri yang selalu
setia hingga usia di batas senja. Teratai yang selalu anggun di kolam
berlumpur.
***
Dari ruang sunyi aku terbangun. Mendengar kaca
diketuk-ketuk. Ia bukan Fafa. Melainkan, Mad. Tubuhnya basah-kuyup karena
peluh. Wayahnya diselimuti debu jalanan. Tak seperti biasanya, Mad yang cepat
pulang dari berpergian itu hanya diam di depanku. "Mengapa kau cepat
pulang, Mad? Kau sudah sampai di makam ibumu?"
"Belum. Di tengah jalan, sms nyasar ke ponselku.
Baca ini! Aq lm mnunggu di rumhmu. Bkn
tuk apa. Hnya mnyampaikn psn mdiang ibumu. Nmr ini aq dpat dr koran pusat yg
muat biografi di bwh puisi2mu. Kau tahu siapa yang datang di rumah
kita?"
Fafa memasuki ruangan. Membawa segelas teh.
"Lihat ke belakang! Kau akan tahu siapa tamu istimewa di rumah kita."
"Siapa dia?"
Sebelum kata-kata meluncur dari muluku, perempuan itu
memberi jawaban, "Namaku, Fafa. Tinggal di ibukota. Putri tunggal Pak
Darmawan. Mantan pacar ibumu yang harus berpisah lantaran tak mendapatkan restu
orang tua. Tapi cinta ayah dengan ibumu tak pernah berakhir. Mereka bersepakat
untuk menjodohkan kedua anaknya bila sudah dewasa. Sebelum ayah meninggal
menyusul ibuku di alam keabadiannya, dia berpesan agar aku menemuimu di Jawa.
Sekarang terserah kepadamu. Apakah kau menerimaku sebagai calon istrimu, Mad?"
Aku menahan napas. Jantungku berhenti detaknya.
Merasakan kecemasan luar biasa. Manakala Mad meminta kepada Fafa untuk segera
pulang ke ibukota! Menyampaikan pesan Mad: "Atas nama mendiang ibuku,
lamaranmu aku terima!"
Wajah Fafa yang secerah udara di luar itu setengah
diangkat. Matanya yang berkaca-kaca bersua dengan mata Mad. Keningnya terbuka
untuk kecupan Mad. Kepalanya melekat hangat di dada Mad. Di depanku, mereka
berpagutan. Serupa sepasang pengantin sesudah mengucapkan sumpah sakral di depan
meja penghulu. Namun sesudah keduanya memasuki kamar, aku merasakan rumah
kacaku sesunyi penjara Gunung Somawana.

No comments:
Post a Comment