Wednesday, February 20, 2019

Lalat-Lalat Bersayap Duri

Sobrah ngakak, ketika menyaksikan bangkai seekor lalat
yang menyerupai prajurit rucah di Padang Kurusetra itu dipikul
oleh sekawanan semut. Sekelompok binatang yang
tersohor berkat sifat kemasyarakatannya.
https://pxhere.com
TAK ada yang dilakukan Sobrah, selain membantai lalat-lalat yang memasuki ruangan kosnya dengan sapu lidi. Lalat-lalat itu sudah keterlaluan. Mengerumuni Sobrah saat menulis. Menghinggapi cangkir berisi kopi yang disiapkan istrinya sebelum berangkat kerja ke pabrik tekstil.
Layar monitor telah menyala. Halaman Microsoft Word sudah siap menampung luncuran kata-kata dari kepala Sobrah yang botak. Namun, tak sepatah kata berhasil dituliskan. Karena tangan Sobrah yang berjemari perempuan itu tidak segera disibukkan dengan tut-tut keyboard, melainkan hanya membantai lalat-lalat dengan sapu lidi.
Meski belum sepatah kata berhasil dituliskan, Sobrah merasa puas. Puluhan lalat berhasil dibantainya. Sobrah ngakak ketika menyaksikan bangkai seekor lalat yang menyerupai prajurit rucah di medan perang itu dipikul oleh sekawanan semut. Sekelompok binatang yang tersohor berkat sifat kebersamaannya.
Menjelang sore sewaktu istrinya pulang kerja, Sobrah masih sibuk membantai lalat-lalat. Sobrah tak peduli dengan omelan istrinya. “Hentikan pekerjaan tololmu itu, Kang! Hanya menghabiskan waktu percuma. Kamu pun hanya menghambur-hamburkan uang. Komputer yang kamu nyalakan sejak aku pergi dari rumah tak menghasilkan apa-apa. Tak ada sepatah kata telah kamu tuliskan di sana.”
“Aku telah dipusingkan dengan lalat-lalat yang memasuki ruang kos kita. Mereka seperti komplotan preman kecil yang memasuki rumah orang tanpa tahu aturan.” Sobrah meletakkan sapu lidi di sudut ruang kos. Duduk di kursi kerjanya. Menshut-down komputer. “Kita harus segera tinggalkan kos ini!”
“Apa?” Istri Sobrah melepas baju seragam kerjanya. Melemparkannya ke kasur yang dipenuhi ratusan bangkai lalat . “Kita belum punya uang. Aku belum gajian. Kamu sendiri belum mendapatkan honor. Tak satupun tulisan, kamu hasilkan minggu ini.”
Sobrah terdiam. Karena bosan dengan perselisihan, Sobrah meninggalkan kosnya. Meninggalkan istrinya yang masih menerocoskan kata-kata tak berguna. Menuju alun-alun, di mana Sobrah selalu menenangkan kegalauan pikirannya. Mencari gagasan untuk tulisan-tulisannya.
***

         Sore hari. Alun-alun dipenuhi orang-orang untuk melepas kepenatan, sesudah sesiang mencari uang. Namun hal yang menarik bagi Sobrah, saat menyaksikan anak-anak yang mengerumuni kedua orang tuanya. Anak-anak itu seperti preman kecil yang suka memaksa kedua orang tuanya untuk membelikan apa saja yang diinginkan.
Sobrah menghirup napas panjang. Sejenak berpikir. Ternyata lalat-lalat tak hanya berkerumun di ruang kosnya, namun juga di alun-alun. Sobrah bergegas pulang. Berhasrat untuk mengabadikan apa yang telah disaksikan ke halaman Microsoft Word komputernya.
 ***

Sesampai di kos, Sobrah tak memedulikan istrinya yang telah berbaring lelap di antara ratusan bangkai lalat di kasur. Menghidupkan komputer. Sesudah halaman Microsoft Word terbuka, jari-jemari Sobrah menari-nari di atas keyboard. Selepas mengepulkan asap sigaret, Sobrah merasa lega. Satu tulisan berhasil diselesaikan malam itu.
Tanpa menshut-down komputer, Sobrah membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Di antara ratusan bangkai lalat itu, Sobrah mendekap erat tubuh istrinya. Sebelum memejamkan sepasang tingkap mata, Sobrah mencium kening istrinya. Teramat mesra.
***

Pagi hari. Sobrah tak mendapatkan istrinya yang semalam lelap dalam dekapannya. Hidungnya tak mencium aroma kopi yang biasa dihidangkan istrinya. Dalam hati, Sobrah mengumpat isrinya yang telah berangkat kerja ke pabrik tekstil. “Brengsek!"
Api kemarahan menyala di dada Sobrah, ketika menyaksikan seluruh font tulisannya berubah menjadi deretan gambar lalat bermuka seram dan bersayap duri. Sobrah semakin berang, ketika deretan gambar lalat itu tak dapat diubah dengan font-font yang tersedia di salah satu folder window komputernya. Sobrah pun kalap. Mengambil martil dari kotak kayu. Dengan sekuat tenaga, Sobrah memukulkan martil itu ke kaca monitor. Komputer mati. Listrik konsleting.
Di luar dugaan Sobrah, ribuan lalat berhamburan dari monitor yang kacanya telah hancur berantakan di lantai. Pasukan lalat itu mengerumuni muka Sobrah. Menyerang dengan sayap-sayap berduri. Wajah Sobrah penuh luka geresan. Darah segar mengucur dari kedua matanya. Sobrah bergulingan di lantai. Mengerang. Pingsan.
 ***

Di kamar pasien rumah sakit, Sobrah terbaring. Lambat-laun luka cakaran sayap-sayap berduri dari ribuan lalat itu sembuh. Namun kedua matanya tak dapat disembuhkan. Buta. Sebuta hatinya sewaktu membantai lalat-lalat di dalam kamar kosnya.
Tak ada yang dapat dilihat Sobrah, selain ribuan lalat yang tertangkap dengan mata imajinya. Ribuan lalat yang menyerupai anak-anak. Menyerbu kedua orang tua yang tak pernah menyuapi hatinya dengan cinta. Ribuan lalat yang menyerupai jutaan rakyat. Menyerbu para penguasa yang membiarkan hidup mereka dalam penderitaan.
Sewaktu ditinggal istrinya bekerja, hanya satu yang diinginkan Sobrah. Bukan secangkir kopi, melainkan jika ajal telah tiba, Sobrah ingin seperti seekor bangkai lalat yang dibantai di dalam kamar kosnya. Mati damai di pikulan sekawanan semut. Menuju tempat yang dirahasiakan.

No comments:

Post a Comment