Sobrah
ngakak, ketika menyaksikan bangkai seekor lalat
yang
menyerupai prajurit rucah di Padang Kurusetra itu dipikul
oleh
sekawanan semut. Sekelompok binatang yang
tersohor berkat sifat kemasyarakatannya.
![]() |
| https://pxhere.com |
TAK ada
yang dilakukan Sobrah, selain membantai lalat-lalat yang memasuki ruangan
kosnya dengan sapu lidi. Lalat-lalat itu sudah keterlaluan. Mengerumuni Sobrah
saat menulis. Menghinggapi cangkir berisi kopi yang disiapkan istrinya sebelum
berangkat kerja ke pabrik tekstil.
Layar monitor
telah menyala. Halaman Microsoft Word sudah siap menampung luncuran kata-kata
dari kepala Sobrah yang botak. Namun, tak sepatah kata berhasil dituliskan.
Karena tangan Sobrah yang berjemari perempuan itu tidak segera disibukkan
dengan tut-tut keyboard, melainkan hanya membantai lalat-lalat dengan sapu
lidi.
Meski
belum sepatah kata berhasil dituliskan, Sobrah merasa puas. Puluhan lalat
berhasil dibantainya. Sobrah ngakak ketika menyaksikan bangkai seekor lalat
yang menyerupai prajurit rucah di medan perang itu dipikul oleh sekawanan
semut. Sekelompok binatang yang tersohor berkat sifat kebersamaannya.
Menjelang
sore sewaktu istrinya pulang kerja, Sobrah masih sibuk membantai lalat-lalat.
Sobrah tak peduli dengan omelan istrinya. “Hentikan pekerjaan tololmu itu,
Kang! Hanya menghabiskan waktu percuma. Kamu pun hanya menghambur-hamburkan
uang. Komputer yang kamu nyalakan sejak aku pergi dari rumah tak menghasilkan
apa-apa. Tak ada sepatah kata telah kamu tuliskan di sana.”
“Aku telah
dipusingkan dengan lalat-lalat yang memasuki ruang kos kita. Mereka seperti
komplotan preman kecil yang memasuki rumah orang tanpa tahu aturan.” Sobrah
meletakkan sapu lidi di sudut ruang kos. Duduk di kursi kerjanya. Menshut-down komputer. “Kita harus segera
tinggalkan kos ini!”
“Apa?”
Istri Sobrah melepas baju seragam kerjanya. Melemparkannya ke kasur yang
dipenuhi ratusan bangkai lalat . “Kita belum punya uang. Aku belum gajian. Kamu
sendiri belum mendapatkan honor. Tak satupun tulisan, kamu hasilkan minggu ini.”
Sobrah terdiam.
Karena bosan dengan perselisihan, Sobrah meninggalkan kosnya. Meninggalkan
istrinya yang masih menerocoskan kata-kata tak berguna. Menuju alun-alun, di
mana Sobrah selalu menenangkan kegalauan pikirannya. Mencari gagasan untuk
tulisan-tulisannya.
***
Sore hari. Alun-alun dipenuhi orang-orang untuk melepas kepenatan, sesudah sesiang mencari uang. Namun hal yang menarik bagi Sobrah, saat menyaksikan anak-anak yang mengerumuni kedua orang tuanya. Anak-anak itu seperti preman kecil yang suka memaksa kedua orang tuanya untuk membelikan apa saja yang diinginkan.
Sobrah
menghirup napas panjang. Sejenak berpikir. Ternyata lalat-lalat tak hanya
berkerumun di ruang kosnya, namun juga di alun-alun. Sobrah bergegas pulang.
Berhasrat untuk mengabadikan apa yang telah disaksikan ke halaman Microsoft Word
komputernya.
***
Sesampai
di kos, Sobrah tak memedulikan istrinya yang telah berbaring lelap di antara
ratusan bangkai lalat di kasur. Menghidupkan komputer. Sesudah halaman Microsoft
Word terbuka, jari-jemari Sobrah menari-nari di atas keyboard. Selepas
mengepulkan asap sigaret, Sobrah merasa lega. Satu tulisan berhasil
diselesaikan malam itu.
Tanpa menshut-down komputer, Sobrah membaringkan
tubuhnya di samping istrinya. Di antara ratusan bangkai lalat itu, Sobrah
mendekap erat tubuh istrinya. Sebelum memejamkan sepasang tingkap mata, Sobrah
mencium kening istrinya. Teramat mesra.
***
Pagi hari. Sobrah tak mendapatkan
istrinya yang semalam lelap dalam dekapannya. Hidungnya tak mencium aroma kopi yang
biasa dihidangkan istrinya. Dalam hati, Sobrah mengumpat isrinya yang telah
berangkat kerja ke pabrik tekstil. “Brengsek!"
Api kemarahan menyala di dada
Sobrah, ketika menyaksikan seluruh font
tulisannya berubah menjadi deretan gambar lalat bermuka seram dan bersayap
duri. Sobrah semakin berang, ketika deretan gambar lalat itu tak dapat diubah
dengan font-font yang tersedia di
salah satu folder window komputernya.
Sobrah pun kalap. Mengambil martil dari kotak kayu. Dengan sekuat tenaga,
Sobrah memukulkan martil itu ke kaca monitor. Komputer mati. Listrik
konsleting.
Di luar dugaan Sobrah, ribuan lalat
berhamburan dari monitor yang kacanya telah hancur berantakan di lantai.
Pasukan lalat itu mengerumuni muka Sobrah. Menyerang dengan sayap-sayap berduri.
Wajah Sobrah penuh luka geresan. Darah segar mengucur dari kedua matanya.
Sobrah bergulingan di lantai. Mengerang. Pingsan.
***
Di kamar pasien rumah sakit, Sobrah
terbaring. Lambat-laun luka cakaran sayap-sayap berduri dari ribuan lalat itu
sembuh. Namun kedua matanya tak dapat disembuhkan. Buta. Sebuta hatinya sewaktu
membantai lalat-lalat di dalam kamar kosnya.
Tak ada yang dapat dilihat Sobrah,
selain ribuan lalat yang tertangkap dengan mata imajinya. Ribuan lalat yang
menyerupai anak-anak. Menyerbu kedua orang tua yang tak pernah menyuapi hatinya
dengan cinta. Ribuan lalat yang menyerupai jutaan rakyat. Menyerbu para
penguasa yang membiarkan hidup mereka dalam penderitaan.
Sewaktu ditinggal istrinya bekerja,
hanya satu yang diinginkan Sobrah. Bukan secangkir kopi, melainkan jika ajal
telah tiba, Sobrah ingin seperti seekor bangkai lalat yang dibantai di dalam
kamar kosnya. Mati damai di pikulan sekawanan semut. Menuju tempat yang
dirahasiakan.

No comments:
Post a Comment