Seperti
terlempar ke negeri aneh, aku menyaksikan Jonggrang
yang berwujud patung batu itu tengah bercinta
dengan Bungsu
![]() |
| https://draft.blogger.com |
AKU memanggilnya
Jonggrang. Nama itu sangat pantas bagi dirinya yang wajahnya mengingatkanku
pada perempuan batu kutukan Bandung. Lantaran kata-kata yang tumpah dari
mulutnya menyerupai anggur beralkohol. Manis di awal. Menyesakkan dada di akhir
cerita. Hingga banyak lelaki yang mendambakan cinta Jonggrang tersayat hatinya.
Teramat pedih. Melampaui tersayat ribuan
silet.
Banyak sudah lelaki
yang menjadi pacar Jonggrang. Tak hanya Radi, Kartiko, Yok, dan Nunung. Aku pun
sempat dipacarinya. Sebagaimana yang lain, aku pun ditinggal minggat. Alasannya sama. Jonggrang yang
tubuh dan hatinya telah membatu itu tak pernah mencapai puncak langit asmara
seusai berhelat di ranjang bunga.
Tak seorang pun tahu
rencana Tuhan. Tujuh bulan berpisah, aku bertemu dengan Jonggrang. Rumah
kontrakanku di belakang rumah kontrakan Jonggrang yang dahulu diaku sebagai pemberian
ayahnya. Pensiunan pegawai tambang dari pulau seberang. Tak tersirat rasa dosa
di wajah Jonggrang, ketika perempuan itu berpapasan denganku di warung rokok
sebelah rumah.
Ambang sore,
Jonggrang ke rumahku. Bukan menemuiku, namun Bin. Gadis belia yang aku sunting
sebulan silam. Dari ruang kerja, aku menangkap maksud Jonggrang. Perempuan itu
berhasrat memungut seekor dari lima anak anjingku yang kemarin sore lahir dari
rahim induknya. Bin yang muak dengan anjing-anjing itu memberikan seekor
kepadanya. Meski jengkel, aku merelakan anjing itu untuk dimilikinya. Perempuan
yang paling aku benci. Melampaui kebencianku pada ular.
Sepulang Jonggrang,
Bin memasuki ruang kerjaku. Duduk lengket di sampingku yang masih sibuk dengan
komputer. Menyelesaikan resensi Buku Pintar Wanita dalam Menaklukkan Lelaki
yang diberikan Puguh Winarsa. “Maaf ya, Sayang! Aku telah melepaskan Bungsu
pada Jonggrang. Aku sangat cemburu. Perhatianmu padanya melampaui perhatianmu
padaku.”
Aku diam.
Kejengkelanku pada Bin masih mengalir bersama darah dan napas. Namun ketika Bin
yang tahu di mana titik kelemahanku itu mengecup pipi, aku sontak mensave
data. Mematikan komputer. Mengusap-usap bibir Bin. Merekah bak mawar pink yang
melenakan dahaga jiwa kekupuku. “Aku sayang padamu, Bin?”
“Selalu?”
“Selalu. Kamu?”
“Tidak.”
“Ada lelaki lain di
hatimu?”
“Ada anjing di rumah
kita.”
Aku lepaskan
jari-jemariku yang melekat di bibir Bin. Menghisap napas dalam.
Menghembuskannya. “Demi cinta, keluarkan semua anjing dari rumah ini. Agar
cintaku padamu tak terbagi.”
“Sungguh?”
Aku menganguk.
Bin bangkit dari
ranjang. Meninggalkan kamar sesudah menghujani kecupan di pipi. Aku tak tahu
apa yang akan dilakukan Bin. Satu yang aku tahu, aku tak melihat lagi
anjing-anjing itu di rumahku. Sewaktu Bin yang bekerja sebagai guru TK itu
tengah mengajar anak-anak. Di mana,
anak-anak itu terkadang lebih sulit dididik ketimbang anak-anak anjing.
***
Waktu melaju tanpa kompromi. Enam
bulan tak melihat anjing-anjing di rumah, aku merasa kehilangan sesuatu paling
berharga dalam hidupku. Hingga hasratku untuk melihat anjing yang dipungut
Jonggrang tak dapat tertahankan. Manakala Bin yang perutnya telah membusung
lantaran hamil itu tengah bekerja, aku luangkan waktu untuk menengok Bungsu.
Anjing yang tak pernah melihat matahari, lantaran Jonggrang selalu mengurungnya
di dalam kamar.
Setiba di rumah Jonggrang, aku ketuk
pintu kayu yang tertutup rapat. Ketika pintu terbuka. Darah kelakianku sontak
bergolak. Jonggrang yang hanya melilitkan handuk buat melindungi titik-titik
rahasia kewanitaannya teramat menggairahkan. Terlebih saat mencium harum
rambutnya yang basah bergerai sehabis dikeramas. Jantungku pun berdegup
kencang, saat menyaksikan kuning langsat tubuhnya.
“Apa maksudmu datang ke rumahku,
Mad? Kisah cinta kita telah berakhir. Tak perlu diawali lagi. Setialah pada
Bin. Dia perempuan samudra yang menyimpan mutiara di relung jiwanya. Aku
bahagia, kamu hidup bersamanya.
“Aku ingin melihat Bungsu.”
“Melihat Bungsu hanya mengingatkanmu
pada kisah cinta kita. Aku tak rela kamu berpaling dari Bin. Perempuan yang
selalu mengingatkanku pada Pril. Anak gadisku yang dipekosa ayah kandungnya
sendiri hingga hamil. Biar aku sendiri yang selalu melihat Bungsu. Dengan
begitu, aku bisa mengenangmu. Lelaki berhati emas yang pernah mencintai
perempuan berjiwa lacur seperti diriku. Pulanglah, Mad! Bekerjalah dengan baik.
Bukankah sebentar lagi, anakmu akan lahir!"
Dengan langkah gontai, aku tinggalkan
Jonggrang. Di rumah, aku tak bergairah bekerja di depan komputer. Hasratku melihat
Bungsu semakin berkecamuk di dada. Rasa kangenku pada anjing itu sontak pudar. Manakala
Bin yang pulang dari bekerja meluncurkan kecupan nakal ke pipiku.
Merengek-rengek seperti anak kecil. Memintaku untuk megusap perutnya.
***
Tengah malam, Bin tertidur pulas.
Perlahan-lahan aku lepaskan tangannya yang mendekap dadaku. Bersijingkat, aku
tinggalkan rumah. Menuju jendela kamar Jonggrang. Di mana Bungsu dikurung.
Sangat berhati-hati, aku mengintip kamar itu lewat celah jendela yang rapuh
kayunya. Seperti terlempar ke negeri aneh, aku menyaksikan Jonggrang yang
berwujud patung batu itu tengah bercinta dengan Bungsu. Bulu kudukku bergidik.
Cepat aku tinggalkan tempat terkutuk itu dengan langkah bergetar dahsyat.
“Dari mana, Mad?”
“Buang Hajat, Bin.”
“Bukankah kamu dari rumah
Jonggrang?”
“Tidak.”
“Jangan bohong! Tak baik buat si
kecil yang masih bertapa di dalam goa rahim. Apakah kamu ingin anak kita
mengalami kesulitan untuk lahir ketika waktunya tiba?”
“Tidak!”
“Maka, jangan bohong!”
“Ya. Aku dari rumah Jonggrang.”
“Kamu masih mencintainya?”
“Aku tak pernah mencintainya?”
“Kamu mencoba membohongiku yang
kedua kali. Jonggrang pernah memberitahukan hubungan cintamu dengannya
kepadaku. Bukankah kalian pernah saling mencintai?”
“Aku memang pernah mencintainya.
Tapi, aku ke rumah Jonggrang hanya untuk melihat Bungsu. Aku sangat
merindukannya.”
“Aku tahu, Mad. Karena kamu memang
anjing yang pernah menjadi budak berahi perempuan batu itu."
“Mengapa kamu mengetahui semuanya?”
“Karena aku anak Jonggrang. Aprilia
Binastia. Apakah kamu melupakan nama lengkapku itu, Mad?”
“Jadi?”
“Ya. Akulah bocah malang yang
diperkosa bapak kandungnya sendiri. Sesudah Jonggrang ibuku minggat dari rumah.
Tidur dari lelaki satu ke lelaki lainnya. Di tengah kecamuk persoalan di
benakku, aku tega membunuh orok di dalam rahim. Kisah pun berakhir. Sepulang
dari rumah dukun yang membantu tindak kejahatanku, aku menemukan tubuh ayahku
tersungkur di dapur dekat WC. Pisau menancap di dadanya yang berlumuran darah.”
Tak sepatah kata meluncur dari
mulutku. Tak tahu apa yang akan aku lakukan. Aku seperti orang tolol yang tak
mampu memberikan tongkat atau tuntunan kepada si buta. Hanya merasakan desir
kepedihan Bin yang menjalar di seluruh tubuh. Hingga seluruh syarafku bergetar
dahsyat. Bin yang merebahkan kepalanya di pangkuanku itu meratapi masa silamnya
dengan air mata. Sederas hujan yang tumpah dari langit tiba-tiba.

No comments:
Post a Comment