Thursday, February 21, 2019

Perempuan Batu

Seperti terlempar ke negeri aneh, aku menyaksikan Jonggrang
yang berwujud patung batu itu tengah bercinta dengan Bungsu
https://draft.blogger.com

AKU memanggilnya Jonggrang. Nama itu sangat pantas bagi dirinya yang wajahnya mengingatkanku pada perempuan batu kutukan Bandung. Lantaran kata-kata yang tumpah dari mulutnya menyerupai anggur beralkohol. Manis di awal. Menyesakkan dada di akhir cerita. Hingga banyak lelaki yang mendambakan cinta Jonggrang tersayat hatinya. Teramat pedih. Melampaui  tersayat ribuan silet.
Banyak sudah lelaki yang menjadi pacar Jonggrang. Tak hanya Radi, Kartiko, Yok, dan Nunung. Aku pun sempat dipacarinya. Sebagaimana yang lain, aku pun ditinggal minggat. Alasannya sama. Jonggrang yang tubuh dan hatinya telah membatu itu tak pernah mencapai puncak langit asmara seusai berhelat di ranjang bunga.
Tak seorang pun tahu rencana Tuhan. Tujuh bulan berpisah, aku bertemu dengan Jonggrang. Rumah kontrakanku di belakang rumah kontrakan Jonggrang yang dahulu diaku sebagai pemberian ayahnya. Pensiunan pegawai tambang dari pulau seberang. Tak tersirat rasa dosa di wajah Jonggrang, ketika perempuan itu berpapasan denganku di warung rokok sebelah rumah.
Ambang sore, Jonggrang ke rumahku. Bukan menemuiku, namun Bin. Gadis belia yang aku sunting sebulan silam. Dari ruang kerja, aku menangkap maksud Jonggrang. Perempuan itu berhasrat memungut seekor dari lima anak anjingku yang kemarin sore lahir dari rahim induknya. Bin yang muak dengan anjing-anjing itu memberikan seekor kepadanya. Meski jengkel, aku merelakan anjing itu untuk dimilikinya. Perempuan yang paling aku benci. Melampaui kebencianku pada ular.
Sepulang Jonggrang, Bin memasuki ruang kerjaku. Duduk lengket di sampingku yang masih sibuk dengan komputer. Menyelesaikan resensi Buku Pintar Wanita dalam Menaklukkan Lelaki yang diberikan Puguh Winarsa. “Maaf ya, Sayang! Aku telah melepaskan Bungsu pada Jonggrang. Aku sangat cemburu. Perhatianmu padanya melampaui perhatianmu padaku.”
Aku diam. Kejengkelanku pada Bin masih mengalir bersama darah dan napas. Namun ketika Bin yang tahu di mana titik kelemahanku itu mengecup pipi, aku sontak mensave data. Mematikan komputer. Mengusap-usap bibir Bin. Merekah bak mawar pink yang melenakan dahaga jiwa kekupuku. “Aku sayang padamu, Bin?”
“Selalu?”
“Selalu. Kamu?”
“Tidak.”
“Ada lelaki lain di hatimu?”
“Ada anjing di rumah kita.”
Aku lepaskan jari-jemariku yang melekat di bibir Bin. Menghisap napas dalam. Menghembuskannya. “Demi cinta, keluarkan semua anjing dari rumah ini. Agar cintaku padamu tak terbagi.”
“Sungguh?”
Aku menganguk.
Bin bangkit dari ranjang. Meninggalkan kamar sesudah menghujani kecupan di pipi. Aku tak tahu apa yang akan dilakukan Bin. Satu yang aku tahu, aku tak melihat lagi anjing-anjing itu di rumahku. Sewaktu Bin yang bekerja sebagai guru TK itu tengah mengajar anak-anak.  Di mana, anak-anak itu terkadang lebih sulit dididik ketimbang anak-anak anjing.
***

Waktu melaju tanpa kompromi. Enam bulan tak melihat anjing-anjing di rumah, aku merasa kehilangan sesuatu paling berharga dalam hidupku. Hingga hasratku untuk melihat anjing yang dipungut Jonggrang tak dapat tertahankan. Manakala Bin yang perutnya telah membusung lantaran hamil itu tengah bekerja, aku luangkan waktu untuk menengok Bungsu. Anjing yang tak pernah melihat matahari, lantaran Jonggrang selalu mengurungnya di dalam kamar.
Setiba di rumah Jonggrang, aku ketuk pintu kayu yang tertutup rapat. Ketika pintu terbuka. Darah kelakianku sontak bergolak. Jonggrang yang hanya melilitkan handuk buat melindungi titik-titik rahasia kewanitaannya teramat menggairahkan. Terlebih saat mencium harum rambutnya yang basah bergerai sehabis dikeramas. Jantungku pun berdegup kencang, saat menyaksikan kuning langsat tubuhnya.
“Apa maksudmu datang ke rumahku, Mad? Kisah cinta kita telah berakhir. Tak perlu diawali lagi. Setialah pada Bin. Dia perempuan samudra yang menyimpan mutiara di relung jiwanya. Aku bahagia, kamu hidup bersamanya.
“Aku ingin melihat Bungsu.”
“Melihat Bungsu hanya mengingatkanmu pada kisah cinta kita. Aku tak rela kamu berpaling dari Bin. Perempuan yang selalu mengingatkanku pada Pril. Anak gadisku yang dipekosa ayah kandungnya sendiri hingga hamil. Biar aku sendiri yang selalu melihat Bungsu. Dengan begitu, aku bisa mengenangmu. Lelaki berhati emas yang pernah mencintai perempuan berjiwa lacur seperti diriku. Pulanglah, Mad! Bekerjalah dengan baik. Bukankah sebentar lagi, anakmu akan lahir!"
Dengan langkah gontai, aku tinggalkan Jonggrang. Di rumah, aku tak bergairah bekerja di depan komputer. Hasratku melihat Bungsu semakin berkecamuk di dada. Rasa kangenku pada anjing itu sontak pudar. Manakala Bin yang pulang dari bekerja meluncurkan kecupan nakal ke pipiku. Merengek-rengek seperti anak kecil. Memintaku untuk megusap perutnya.   
***

Tengah malam, Bin tertidur pulas. Perlahan-lahan aku lepaskan tangannya yang mendekap dadaku. Bersijingkat, aku tinggalkan rumah. Menuju jendela kamar Jonggrang. Di mana Bungsu dikurung. Sangat berhati-hati, aku mengintip kamar itu lewat celah jendela yang rapuh kayunya. Seperti terlempar ke negeri aneh, aku menyaksikan Jonggrang yang berwujud patung batu itu tengah bercinta dengan Bungsu. Bulu kudukku bergidik. Cepat aku tinggalkan tempat terkutuk itu dengan langkah bergetar dahsyat.
“Dari mana, Mad?”
“Buang Hajat, Bin.”
“Bukankah kamu dari rumah Jonggrang?”
“Tidak.”
“Jangan bohong! Tak baik buat si kecil yang masih bertapa di dalam goa rahim. Apakah kamu ingin anak kita mengalami kesulitan untuk lahir ketika waktunya tiba?”
“Tidak!”
“Maka, jangan bohong!”
“Ya. Aku dari rumah Jonggrang.”
“Kamu masih mencintainya?”
“Aku tak pernah mencintainya?”
“Kamu mencoba membohongiku yang kedua kali. Jonggrang pernah memberitahukan hubungan cintamu dengannya kepadaku. Bukankah kalian pernah saling mencintai?”
“Aku memang pernah mencintainya. Tapi, aku ke rumah Jonggrang hanya untuk melihat Bungsu. Aku sangat merindukannya.”
“Aku tahu, Mad. Karena kamu memang anjing yang pernah menjadi budak berahi perempuan batu itu."
“Mengapa kamu mengetahui semuanya?”
“Karena aku anak Jonggrang. Aprilia Binastia. Apakah kamu melupakan nama lengkapku itu, Mad?”
“Jadi?”
“Ya. Akulah bocah malang yang diperkosa bapak kandungnya sendiri. Sesudah Jonggrang ibuku minggat dari rumah. Tidur dari lelaki satu ke lelaki lainnya. Di tengah kecamuk persoalan di benakku, aku tega membunuh orok di dalam rahim. Kisah pun berakhir. Sepulang dari rumah dukun yang membantu tindak kejahatanku, aku menemukan tubuh ayahku tersungkur di dapur dekat WC. Pisau menancap di dadanya yang berlumuran darah.”
Tak sepatah kata meluncur dari mulutku. Tak tahu apa yang akan aku lakukan. Aku seperti orang tolol yang tak mampu memberikan tongkat atau tuntunan kepada si buta. Hanya merasakan desir kepedihan Bin yang menjalar di seluruh tubuh. Hingga seluruh syarafku bergetar dahsyat. Bin yang merebahkan kepalanya di pangkuanku itu meratapi masa silamnya dengan air mata. Sederas hujan yang tumpah dari langit tiba-tiba.

No comments:

Post a Comment