Thursday, February 21, 2019

Perempuan Batu

Seperti terlempar ke negeri aneh, aku menyaksikan Jonggrang
yang berwujud patung batu itu tengah bercinta dengan Bungsu
https://draft.blogger.com

AKU memanggilnya Jonggrang. Nama itu sangat pantas bagi dirinya yang wajahnya mengingatkanku pada perempuan batu kutukan Bandung. Lantaran kata-kata yang tumpah dari mulutnya menyerupai anggur beralkohol. Manis di awal. Menyesakkan dada di akhir cerita. Hingga banyak lelaki yang mendambakan cinta Jonggrang tersayat hatinya. Teramat pedih. Melampaui  tersayat ribuan silet.
Banyak sudah lelaki yang menjadi pacar Jonggrang. Tak hanya Radi, Kartiko, Yok, dan Nunung. Aku pun sempat dipacarinya. Sebagaimana yang lain, aku pun ditinggal minggat. Alasannya sama. Jonggrang yang tubuh dan hatinya telah membatu itu tak pernah mencapai puncak langit asmara seusai berhelat di ranjang bunga.
Tak seorang pun tahu rencana Tuhan. Tujuh bulan berpisah, aku bertemu dengan Jonggrang. Rumah kontrakanku di belakang rumah kontrakan Jonggrang yang dahulu diaku sebagai pemberian ayahnya. Pensiunan pegawai tambang dari pulau seberang. Tak tersirat rasa dosa di wajah Jonggrang, ketika perempuan itu berpapasan denganku di warung rokok sebelah rumah.
Ambang sore, Jonggrang ke rumahku. Bukan menemuiku, namun Bin. Gadis belia yang aku sunting sebulan silam. Dari ruang kerja, aku menangkap maksud Jonggrang. Perempuan itu berhasrat memungut seekor dari lima anak anjingku yang kemarin sore lahir dari rahim induknya. Bin yang muak dengan anjing-anjing itu memberikan seekor kepadanya. Meski jengkel, aku merelakan anjing itu untuk dimilikinya. Perempuan yang paling aku benci. Melampaui kebencianku pada ular.
Sepulang Jonggrang, Bin memasuki ruang kerjaku. Duduk lengket di sampingku yang masih sibuk dengan komputer. Menyelesaikan resensi Buku Pintar Wanita dalam Menaklukkan Lelaki yang diberikan Puguh Winarsa. “Maaf ya, Sayang! Aku telah melepaskan Bungsu pada Jonggrang. Aku sangat cemburu. Perhatianmu padanya melampaui perhatianmu padaku.”
Aku diam. Kejengkelanku pada Bin masih mengalir bersama darah dan napas. Namun ketika Bin yang tahu di mana titik kelemahanku itu mengecup pipi, aku sontak mensave data. Mematikan komputer. Mengusap-usap bibir Bin. Merekah bak mawar pink yang melenakan dahaga jiwa kekupuku. “Aku sayang padamu, Bin?”
“Selalu?”
“Selalu. Kamu?”
“Tidak.”
“Ada lelaki lain di hatimu?”
“Ada anjing di rumah kita.”
Aku lepaskan jari-jemariku yang melekat di bibir Bin. Menghisap napas dalam. Menghembuskannya. “Demi cinta, keluarkan semua anjing dari rumah ini. Agar cintaku padamu tak terbagi.”
“Sungguh?”
Aku menganguk.
Bin bangkit dari ranjang. Meninggalkan kamar sesudah menghujani kecupan di pipi. Aku tak tahu apa yang akan dilakukan Bin. Satu yang aku tahu, aku tak melihat lagi anjing-anjing itu di rumahku. Sewaktu Bin yang bekerja sebagai guru TK itu tengah mengajar anak-anak.  Di mana, anak-anak itu terkadang lebih sulit dididik ketimbang anak-anak anjing.
***

Waktu melaju tanpa kompromi. Enam bulan tak melihat anjing-anjing di rumah, aku merasa kehilangan sesuatu paling berharga dalam hidupku. Hingga hasratku untuk melihat anjing yang dipungut Jonggrang tak dapat tertahankan. Manakala Bin yang perutnya telah membusung lantaran hamil itu tengah bekerja, aku luangkan waktu untuk menengok Bungsu. Anjing yang tak pernah melihat matahari, lantaran Jonggrang selalu mengurungnya di dalam kamar.
Setiba di rumah Jonggrang, aku ketuk pintu kayu yang tertutup rapat. Ketika pintu terbuka. Darah kelakianku sontak bergolak. Jonggrang yang hanya melilitkan handuk buat melindungi titik-titik rahasia kewanitaannya teramat menggairahkan. Terlebih saat mencium harum rambutnya yang basah bergerai sehabis dikeramas. Jantungku pun berdegup kencang, saat menyaksikan kuning langsat tubuhnya.
“Apa maksudmu datang ke rumahku, Mad? Kisah cinta kita telah berakhir. Tak perlu diawali lagi. Setialah pada Bin. Dia perempuan samudra yang menyimpan mutiara di relung jiwanya. Aku bahagia, kamu hidup bersamanya.
“Aku ingin melihat Bungsu.”
“Melihat Bungsu hanya mengingatkanmu pada kisah cinta kita. Aku tak rela kamu berpaling dari Bin. Perempuan yang selalu mengingatkanku pada Pril. Anak gadisku yang dipekosa ayah kandungnya sendiri hingga hamil. Biar aku sendiri yang selalu melihat Bungsu. Dengan begitu, aku bisa mengenangmu. Lelaki berhati emas yang pernah mencintai perempuan berjiwa lacur seperti diriku. Pulanglah, Mad! Bekerjalah dengan baik. Bukankah sebentar lagi, anakmu akan lahir!"
Dengan langkah gontai, aku tinggalkan Jonggrang. Di rumah, aku tak bergairah bekerja di depan komputer. Hasratku melihat Bungsu semakin berkecamuk di dada. Rasa kangenku pada anjing itu sontak pudar. Manakala Bin yang pulang dari bekerja meluncurkan kecupan nakal ke pipiku. Merengek-rengek seperti anak kecil. Memintaku untuk megusap perutnya.   
***

Tengah malam, Bin tertidur pulas. Perlahan-lahan aku lepaskan tangannya yang mendekap dadaku. Bersijingkat, aku tinggalkan rumah. Menuju jendela kamar Jonggrang. Di mana Bungsu dikurung. Sangat berhati-hati, aku mengintip kamar itu lewat celah jendela yang rapuh kayunya. Seperti terlempar ke negeri aneh, aku menyaksikan Jonggrang yang berwujud patung batu itu tengah bercinta dengan Bungsu. Bulu kudukku bergidik. Cepat aku tinggalkan tempat terkutuk itu dengan langkah bergetar dahsyat.
“Dari mana, Mad?”
“Buang Hajat, Bin.”
“Bukankah kamu dari rumah Jonggrang?”
“Tidak.”
“Jangan bohong! Tak baik buat si kecil yang masih bertapa di dalam goa rahim. Apakah kamu ingin anak kita mengalami kesulitan untuk lahir ketika waktunya tiba?”
“Tidak!”
“Maka, jangan bohong!”
“Ya. Aku dari rumah Jonggrang.”
“Kamu masih mencintainya?”
“Aku tak pernah mencintainya?”
“Kamu mencoba membohongiku yang kedua kali. Jonggrang pernah memberitahukan hubungan cintamu dengannya kepadaku. Bukankah kalian pernah saling mencintai?”
“Aku memang pernah mencintainya. Tapi, aku ke rumah Jonggrang hanya untuk melihat Bungsu. Aku sangat merindukannya.”
“Aku tahu, Mad. Karena kamu memang anjing yang pernah menjadi budak berahi perempuan batu itu."
“Mengapa kamu mengetahui semuanya?”
“Karena aku anak Jonggrang. Aprilia Binastia. Apakah kamu melupakan nama lengkapku itu, Mad?”
“Jadi?”
“Ya. Akulah bocah malang yang diperkosa bapak kandungnya sendiri. Sesudah Jonggrang ibuku minggat dari rumah. Tidur dari lelaki satu ke lelaki lainnya. Di tengah kecamuk persoalan di benakku, aku tega membunuh orok di dalam rahim. Kisah pun berakhir. Sepulang dari rumah dukun yang membantu tindak kejahatanku, aku menemukan tubuh ayahku tersungkur di dapur dekat WC. Pisau menancap di dadanya yang berlumuran darah.”
Tak sepatah kata meluncur dari mulutku. Tak tahu apa yang akan aku lakukan. Aku seperti orang tolol yang tak mampu memberikan tongkat atau tuntunan kepada si buta. Hanya merasakan desir kepedihan Bin yang menjalar di seluruh tubuh. Hingga seluruh syarafku bergetar dahsyat. Bin yang merebahkan kepalanya di pangkuanku itu meratapi masa silamnya dengan air mata. Sederas hujan yang tumpah dari langit tiba-tiba.

Wednesday, February 20, 2019

Lalat-Lalat Bersayap Duri

Sobrah ngakak, ketika menyaksikan bangkai seekor lalat
yang menyerupai prajurit rucah di Padang Kurusetra itu dipikul
oleh sekawanan semut. Sekelompok binatang yang
tersohor berkat sifat kemasyarakatannya.
https://pxhere.com
TAK ada yang dilakukan Sobrah, selain membantai lalat-lalat yang memasuki ruangan kosnya dengan sapu lidi. Lalat-lalat itu sudah keterlaluan. Mengerumuni Sobrah saat menulis. Menghinggapi cangkir berisi kopi yang disiapkan istrinya sebelum berangkat kerja ke pabrik tekstil.
Layar monitor telah menyala. Halaman Microsoft Word sudah siap menampung luncuran kata-kata dari kepala Sobrah yang botak. Namun, tak sepatah kata berhasil dituliskan. Karena tangan Sobrah yang berjemari perempuan itu tidak segera disibukkan dengan tut-tut keyboard, melainkan hanya membantai lalat-lalat dengan sapu lidi.
Meski belum sepatah kata berhasil dituliskan, Sobrah merasa puas. Puluhan lalat berhasil dibantainya. Sobrah ngakak ketika menyaksikan bangkai seekor lalat yang menyerupai prajurit rucah di medan perang itu dipikul oleh sekawanan semut. Sekelompok binatang yang tersohor berkat sifat kebersamaannya.
Menjelang sore sewaktu istrinya pulang kerja, Sobrah masih sibuk membantai lalat-lalat. Sobrah tak peduli dengan omelan istrinya. “Hentikan pekerjaan tololmu itu, Kang! Hanya menghabiskan waktu percuma. Kamu pun hanya menghambur-hamburkan uang. Komputer yang kamu nyalakan sejak aku pergi dari rumah tak menghasilkan apa-apa. Tak ada sepatah kata telah kamu tuliskan di sana.”
“Aku telah dipusingkan dengan lalat-lalat yang memasuki ruang kos kita. Mereka seperti komplotan preman kecil yang memasuki rumah orang tanpa tahu aturan.” Sobrah meletakkan sapu lidi di sudut ruang kos. Duduk di kursi kerjanya. Menshut-down komputer. “Kita harus segera tinggalkan kos ini!”
“Apa?” Istri Sobrah melepas baju seragam kerjanya. Melemparkannya ke kasur yang dipenuhi ratusan bangkai lalat . “Kita belum punya uang. Aku belum gajian. Kamu sendiri belum mendapatkan honor. Tak satupun tulisan, kamu hasilkan minggu ini.”
Sobrah terdiam. Karena bosan dengan perselisihan, Sobrah meninggalkan kosnya. Meninggalkan istrinya yang masih menerocoskan kata-kata tak berguna. Menuju alun-alun, di mana Sobrah selalu menenangkan kegalauan pikirannya. Mencari gagasan untuk tulisan-tulisannya.
***

         Sore hari. Alun-alun dipenuhi orang-orang untuk melepas kepenatan, sesudah sesiang mencari uang. Namun hal yang menarik bagi Sobrah, saat menyaksikan anak-anak yang mengerumuni kedua orang tuanya. Anak-anak itu seperti preman kecil yang suka memaksa kedua orang tuanya untuk membelikan apa saja yang diinginkan.
Sobrah menghirup napas panjang. Sejenak berpikir. Ternyata lalat-lalat tak hanya berkerumun di ruang kosnya, namun juga di alun-alun. Sobrah bergegas pulang. Berhasrat untuk mengabadikan apa yang telah disaksikan ke halaman Microsoft Word komputernya.
 ***

Sesampai di kos, Sobrah tak memedulikan istrinya yang telah berbaring lelap di antara ratusan bangkai lalat di kasur. Menghidupkan komputer. Sesudah halaman Microsoft Word terbuka, jari-jemari Sobrah menari-nari di atas keyboard. Selepas mengepulkan asap sigaret, Sobrah merasa lega. Satu tulisan berhasil diselesaikan malam itu.
Tanpa menshut-down komputer, Sobrah membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Di antara ratusan bangkai lalat itu, Sobrah mendekap erat tubuh istrinya. Sebelum memejamkan sepasang tingkap mata, Sobrah mencium kening istrinya. Teramat mesra.
***

Pagi hari. Sobrah tak mendapatkan istrinya yang semalam lelap dalam dekapannya. Hidungnya tak mencium aroma kopi yang biasa dihidangkan istrinya. Dalam hati, Sobrah mengumpat isrinya yang telah berangkat kerja ke pabrik tekstil. “Brengsek!"
Api kemarahan menyala di dada Sobrah, ketika menyaksikan seluruh font tulisannya berubah menjadi deretan gambar lalat bermuka seram dan bersayap duri. Sobrah semakin berang, ketika deretan gambar lalat itu tak dapat diubah dengan font-font yang tersedia di salah satu folder window komputernya. Sobrah pun kalap. Mengambil martil dari kotak kayu. Dengan sekuat tenaga, Sobrah memukulkan martil itu ke kaca monitor. Komputer mati. Listrik konsleting.
Di luar dugaan Sobrah, ribuan lalat berhamburan dari monitor yang kacanya telah hancur berantakan di lantai. Pasukan lalat itu mengerumuni muka Sobrah. Menyerang dengan sayap-sayap berduri. Wajah Sobrah penuh luka geresan. Darah segar mengucur dari kedua matanya. Sobrah bergulingan di lantai. Mengerang. Pingsan.
 ***

Di kamar pasien rumah sakit, Sobrah terbaring. Lambat-laun luka cakaran sayap-sayap berduri dari ribuan lalat itu sembuh. Namun kedua matanya tak dapat disembuhkan. Buta. Sebuta hatinya sewaktu membantai lalat-lalat di dalam kamar kosnya.
Tak ada yang dapat dilihat Sobrah, selain ribuan lalat yang tertangkap dengan mata imajinya. Ribuan lalat yang menyerupai anak-anak. Menyerbu kedua orang tua yang tak pernah menyuapi hatinya dengan cinta. Ribuan lalat yang menyerupai jutaan rakyat. Menyerbu para penguasa yang membiarkan hidup mereka dalam penderitaan.
Sewaktu ditinggal istrinya bekerja, hanya satu yang diinginkan Sobrah. Bukan secangkir kopi, melainkan jika ajal telah tiba, Sobrah ingin seperti seekor bangkai lalat yang dibantai di dalam kamar kosnya. Mati damai di pikulan sekawanan semut. Menuju tempat yang dirahasiakan.

Rumah Kaca

Dyan bukan malam yang selalu menepati
janji untuk mempersembahkan matahari pada fajar.
Dyan bukan pohon flamboyan yang merekahkan bebunganya
saat kemarau panjang. Dyan hanyalah mawar berduri bagi Mad.
Kekupu tolol yang terluka sesudah Dyan minggat
tanpa diketahui di mana alamatnya
http://www.apakabardunia.com
AKULAH lelaki bayangan. Berumah kaca. Nasibku seburuk Rahwana di penjara gunung Somawana. Tinggal sendirian. Tak ada perempuan sebagai istri, pacar, atau selingkuhan. Tak ada anak-anak selucu malaikat bersayap perak saat bermain bebintang di langit lepas. Tak ada kerabat. Saudara kembarku pun tak pernah berkunjung lagi. Dialah, Mad. Penyair sunyi yang selalu onani dengan komputer dan ponselnya.
Kepada Mad, aku sangat iba. Nasibnya lebih buruk dariku. Puisi-puisinya yang ditulis hanya menjadi sampah. Setiap perempuan yang didambakan sebagai istrinya selalu meninggalkan. Hingga Mad tak percaya lagi dengan keberadan cinta yang selalu dipuja-puja serupa dewa bagi sekelompok manusia purbani. Perempuan-perempuan yang dikontak lewat ponselnya hanya orang-orang sakit. Tak butuh cinta, selain syahwat.
Dyan. Demikian Mad menyebut nama pacar pertamanya yang tengah sibuk mengurus perceraian dengan suaminya. Semula Mad percaya kalau kata-kata Dyan yang bakal setia mendampingi perjalanan hidupnya hingga batas usia hanya bualan seorang pemabuk. Dyan bukan malam yang selalu menepati janji untuk mempersembahkan matahari pada fajar. Dyan bukan pohon flamboyan yang merekahkan bebunganya saat kemarau panjang. Dyan hanyalah mawar berduri bagi Mad. Kekupu tolol yang terluka sesudah Dyan minggat tanpa diketahui di mana alamatnya.
Selepas Dyan dari ruang cintanya, Mad tidak pernah bersentuhan dengan komputer dan ponselnya. Berhari-hari Mad selalu mengunjungiku. Sebagai saudara sejiwa, aku hanya memberi saran agar Mad tidak percaya pada semua perempuan. Bukankah Adam yang dipenjara Tuhan di bumi jahanam lantaran mulut manis perempuan?
Tak lama kemudian, Mad tidak lepas lagi dengan ponselnya. Setiap hari Mad selalu menulis puisi cinta. Setiap hari Mad bercallingan dan beresemesan dengan Aryn. Perempuan kesepian karena suaminya telah enam bulan tidak pernah pulang. Perempuan yang selalu minta didengar kata-katanya. Perempuan lapar berahi yang selalu minta disuapi sewaktu datang di rumah Mad. Namun sebagaimana Dyan, Aryn pun tak ada kabar lagi. Sesudah mengobral janji kosong kepada Mad akan membelikan printer bekas buat komputernya saat menerima uang bulanan dari suaminya. Developer yang konon berselingkuh dengan sekretarisnya.
Di depanku, Mad mengeluhkan nasib cintanya. Baginya cinta telah menyerupai lengkungan bianglala. Satu ujung di puncak gunung. Satu ujung lainnya di pusar telaga. Namun sewaktu Mad yang mengendap-endap seperti harimau lapar atas rusa muda, bianglala itu lenyap dari pandangannya. "Sudaraku, aku telah lelah memburu cinta. Hanya menghabiskan sisa usia percuma. Apakah Tuhan tak menciptakan seorang perempuan sebagai pasangan hidupku?"
Aku hanya menatap matanya yang berlinang air mata itu. Mad ternyata lebih cengeng dari perempuan. Jiwanya yang pernah setegar pengembara sunyi di padang karang di naungan panggangan matahari musim kemarau itu kini lebih hina dari sesobek kapas yang diterbangkan angin. "Air mata tidak menyelesaikan masalah, Mad?"
"Lantas aku harus bagaimana, saudaraku? Aku telah lelah mendatangi makam-makam. Meminta restu kepada para leluhur yang bersemayam di alam keabadiannya. Bibirku telah kelu berdoa setiap tengah malam, agar aku cepat mendapatkan seorang istri yang setia. Sebagimana Setyawati bagi Narasoma. Surtikanthi bagi Suryatmaja. Subadra bagi Arjuna.  Apakah Tuhan sudah bosan mendengar keluh kesahku?"
"Hanya Tuhan yang tahu."
"Tidak adakah lagi jalan lain yang harus kutempuh?"
"Pergilah ke timur! Di mana ibumu disemayamkan."
"Kapan aku berangkat?"
"Tak perlu menunggu hari kiamat."
Tanpa permisi, Mad meninggalkanku. Sebelum matahari muntah dari rahim malam, Mad tak agi duduk di depan komputernya. Sas-sus yang aku dengar dari tetangga-tetangga kiri-kanannya, Mad pergi hanya dengan ponselnya. Tanpa bekal pakaian. Tanpa membawa sepeser uang. Sungguh kasihan kalau aku merasakan nasib saudaraku itu. Mad serupa kapas yang terombang-ambingkan angin di langit lepas.
***

Hampir sebulan Mad telah meninggalkan rumah. Aku kembali kesepian. Tinggal sendirian di rumah kaca. Namun aku tidak pernah menduga sebelumnya, kalau rumah yang dibiarkan tidak terkunci itu telah menerima tamu tak diundang. Dia bukan pencuri, melainkan seorang perempuan. Fafa, demikian namanya.
Fafa memang cantik. Anggun tepatnya. Wajahnya menyiratkan sifat keibuan. Binar matanya melukiskan kecerdasan di dalam berpikir. Rambutnya lurus sampai ke pinggang. Hingga suatu pagi, aku dapat bertemu dengan Fafa. Saat perempuan yang tak pernah merokok itu membersihkan cermin. Tempat Mad sering berkaca. Tempat dimana aku tinggal di dalamnya.
"Sampai kapan kau setia menunggunya, Fa? Mad tak pasti kapan pulangnya."
"Sampai kapan pun, aku akan menunggunya."
"Luar biasa! Kau telah lama mengenalnya?"
"Aku telah mengenal pribadinya lewat karya-karyanya yang dimuat di koran. Aku sangat mengaguminya."
"Apa maksudmu datang ke rumah ini?"
"Aku ingin berguru kepadanya."
"Tentang sastra?"
"Tentang kehidupan. Kau siapa? Rumahmu di dalam kaca. Kau tampan seperti Ciptaning."
"Aku saudara kembar Mad."
Fafa terdiam. Namun wajahnya yang sontak menyerupai telaga berwarna zamrut berkilauan karena matahari itu menyiratkan suatu persoalan besar. "Aku harus meninggalkanmu sejenak. Pakaian kotor Mad banyak menimbun di ember. Aku harus mencuci, mengeringkan, dan menyeterikanya."
Sebelum meninggalkanku, Fafa tersenyum tipis. Luar biasa! Senyum itu melampaui flamboyan di musim kemarau panjang. Aku turut berbahagia, apabila Fafa tidak hanya menjadi murid Mad. Namun istri yang selalu setia hingga usia di batas senja. Teratai yang selalu anggun di kolam berlumpur.
***

Dari ruang sunyi aku terbangun. Mendengar kaca diketuk-ketuk. Ia bukan Fafa. Melainkan, Mad. Tubuhnya basah-kuyup karena peluh. Wayahnya diselimuti debu jalanan. Tak seperti biasanya, Mad yang cepat pulang dari berpergian itu hanya diam di depanku. "Mengapa kau cepat pulang, Mad? Kau sudah sampai di makam ibumu?"
"Belum. Di tengah jalan, sms nyasar ke ponselku. Baca ini! Aq lm mnunggu di rumhmu. Bkn tuk apa. Hnya mnyampaikn psn mdiang ibumu. Nmr ini aq dpat dr koran pusat yg muat biografi di bwh puisi2mu. Kau tahu siapa yang datang di rumah kita?"
Fafa memasuki ruangan. Membawa segelas teh. "Lihat ke belakang! Kau akan tahu siapa tamu istimewa di rumah kita."
"Siapa dia?"
Sebelum kata-kata meluncur dari muluku, perempuan itu memberi jawaban, "Namaku, Fafa. Tinggal di ibukota. Putri tunggal Pak Darmawan. Mantan pacar ibumu yang harus berpisah lantaran tak mendapatkan restu orang tua. Tapi cinta ayah dengan ibumu tak pernah berakhir. Mereka bersepakat untuk menjodohkan kedua anaknya bila sudah dewasa. Sebelum ayah meninggal menyusul ibuku di alam keabadiannya, dia berpesan agar aku menemuimu di Jawa. Sekarang terserah kepadamu. Apakah kau menerimaku sebagai calon istrimu, Mad?"
Aku menahan napas. Jantungku berhenti detaknya. Merasakan kecemasan luar biasa. Manakala Mad meminta kepada Fafa untuk segera pulang ke ibukota! Menyampaikan pesan Mad: "Atas nama mendiang ibuku, lamaranmu aku terima!"
Wajah Fafa yang secerah udara di luar itu setengah diangkat. Matanya yang berkaca-kaca bersua dengan mata Mad. Keningnya terbuka untuk kecupan Mad. Kepalanya melekat hangat di dada Mad. Di depanku, mereka berpagutan. Serupa sepasang pengantin sesudah mengucapkan sumpah sakral di depan meja penghulu. Namun sesudah keduanya memasuki kamar, aku merasakan rumah kacaku sesunyi penjara Gunung Somawana.

Pengantar


MENCIPTA cerpen telah menjadi bagian kehidupan saya selama menekuni kreativitas satra sejak 1987 hingga sekarang. Banyak sudah karya cerpen yang telah saya cipta dan dimuat di berbagai media massa. Bahkan beberapa telah diikut-sertakan dalam antologi cerpen. Namun belum satu pun buku kumpulan cerpen pribadi, saya miliki. Karenanya tak heran, kalau banyak kawan meminta saya untuk menerbitkannya ke dalam bentuk buku.
Berpijak dari saran kawan-kawan dan kesadaranku akan pentingnya dokumentasi, maka penyusunan karya-karya cerpen yang telah dimuat di beberapa harian baik regional maupun nasional saya lakukan. Pendokumentasian yang bukan sekadar diarahkan sebagai media representasi karya, namun pula sebagai media kontemplasi dan rekreasi bagi pecinta sastra Indonesia.
Sebagai cerpenis, saya pun sangat berharap agar Antologi Cerpen “ZAMAN GEMBLUNG” ini akan mewarnai kehidupan sastra di Indonesaia. Suatu kehidupan yang layak mendapatkan tempat di lingkup masyarakat pembaca. Sehingga nilai-nilai di dalam karya sastra (terutama, cerpen) dapat memberikan pencerahan di tengah kehidupan yang kian dililit persoalan politis. Suatu persoalan yang dirasa kian menjadi hantu di rumah sendiri.

Sri Wintala Achmad